Minggu, 26 Mei 2013

My Egoist Teacher - Part 3

PARKIRAN SEKOLAH

Aku berjalan dengan malas menuju mobil Jaguar XKR-S yang berwarna hitam dengan plat B 318 TM. Ya, mobil milik Pak Ryan yang baru dibelinya itu. Masih kuingat pertama kalinya dia membawa mobil ini ke sekolah tiga bulan yang lalu, para siswa-siswi dan bahkan para guru pun mengerubutinya. Yang siswi dan guru wanita berteriak histeris dan makin menggilai Pak Ryan yang terlihat makin tambah keren menurut mereka karena membawa mobil sport yang mahal itu. Sedangkan, para siswa dan guru pria  berdecak kagum dengan mobilnya. Aku sendiri malas melihatnya dan lebih baik pergi ke kelas secepatnya.

Aku berdiri dan menyender di pintu mobil sebelah kiri. Cuaca di hari ini sangat cerah, akan tetapi tidak untuk mood ku saat ini. Rasanya ingin kabur tapi tidak bisa. Aku heran dengan diriku kenapa bisa dengan patuh menuruti semua yang disuruh Pak Ryan. Ingin aku berontak, tapi Pak Ryan seakan-akan selalu tahu kelemahanku. Makanya dari dulu aku tidak bisa untuk tidak mematuhinya.

Hari Selasa yang sudah aku benci dan sekarang membawaku kepada permasalahan baru. Masalah dengan Pak Ryan pula. Apa yang kulakukan hingga aku harus berurusan dengannya. Dan kenapa tadi dia harus berada di lorong sekolah yang akhirnya dia bisa mendengar obrolan ku dengan Mika. Padahal saat berjalan di lorong sekolah tadi, aku tidak melihat tanda-tanda keberadaan Pak Ryan. Kenapa dia bisa tiba-tiba muncul sih.

“Huuuuuuuhhh….” Aku menghela nafas sebal.

“Kenapa menghela nafas begitu?”

Tiba-tiba terdengar suara seorang pria. Aku pun terperanjat dari lamunanku dan melihat di depanku Pak Ryan sudah berdiri.

“Ba..ba..bapak!! Kapan bapak ada di sini?”

Ish…kenapa sih dia itu selalu muncul tiba-tiba begitu. Seperti hantu saja. Dan entah kenapa selalu mendadak muncul di saat yang tidak tepat.

“Tak lama kok. Memang kamu tidak mellihat saya berjalan ke sini?”

“Tidak. Saya tidak melihat.” jawabku.

“Ya jelas saja. Kan kamu dari tadi bengong gitu. Terus kenapa tadi kamu menghela nafas begitu?”

Duh..kenapa sih dia selalu ingin tahu.  Aku harus jawab apa. Masa aku harus jujur kalau aku menghela nafas begitu karena sebal dengannya. Gila aja. Kalau jujur seperti itu berarti aku tidak sayang nyawa.

“Eng..ah tidak. Tidak ada apa-apa kok. Hehehe….”

“Really?! Saya tidak percaya. Saya yakin kamu tadi memikirkan sesuatu dan kamu sebal akan hal yang kamu pikirkan itu. Benarkan, Tatiana Melodi Hardiningtyas?” tanya Pak Ryan penuh selidik dan tiba-tiba saja wajahnya mendekat.

Ya Tuhan, aku harus bagaimana. Kenapa dia bisa tahu sih.

“A..a..a”

“Kamu jangan-jangan tidak suka ya pergi sama saya?”

Seakan tidak ingin aku meneruskan bicara, beliau langsung menanyakan langsung untuk memojokanku. Ugh, aku benci dengan keadaan seperti ini. Aku tidak tahan harus berhadapan dengannya.

“I..itu..ituuu…”

“Tidak suka?” tanya Pak Ryan dan wajahnya semakin dekat dengan wajahku. Matanya pun menatap langsung ke mataku. Aku diam membeku. Suhu tubuhku rasanya meningkat tajam. Walau cuaca tidak panas, tapi aku mengeluarkan banyak keringat. Apa yang harus ku jawab.

“I..i..iya.”

Bodoh! Dasar bodoh kau Nana! Kenapa malah menjawab iya. Aku sebal dengan diriku. Bahkan mulut pun tidak mau berkompromi dengan diriku agar terhindar dari masalah yang baru.

“HAHAHA… AHAHAHA…”

Aku terkejut melihat Pak Ryan mendadak tertawa terbahak-bahak. Ih, tapi kan dia tertawa seperti itu jangan-jangan karena sudah puas melihatku terpojok seperti ini. Yah, aku sungguh memalukan bisa terjebak dengannya. Aku hanya bisa diam pasrah. Terserah beliau ingin melakukan apa.

“Saya tak menyangka kamu bisa berani menjawab dengan jujur begitu. Saya pikir kamu akan berbohong. Dan lihat sekarang! Tampangmu sekarang ini lucu sekali. Seakan-akan menyesal juga karena sudah jujur. Ahahaha…”

“Yaaah…silahkan saja bapak tertawa hingga puas!” kataku sebal. Kalau bisa, rasanya aku ingin melarikan diri. Aku sudah tidak tahan. Malu dan kesal bercampur menjadi satu. Tapi aku pun juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

“Uhuk. Ehm.. Maafkan saya. Saya tidak akan tertawa lagi.”

“…..”

Aku malas sekali untuk menanggapi.

“Maafkan saya. Saya hanya ingin tahu reaksimu. Tapi tak menyangka saya bisa mendapatkan reaksi seperti yang saya pikirkan. Ng… Hanya saja….” Raut mukanya berubah serius dan suaranya dipelankan.

Perkataan Pak Ryan tiba-tiba terputus dan situasi sekarang ini juga mendadak berubah menjadi serius. Kenapa bisa berubah secepat ini sih. Sejujurnya, aku penasaran apa yang ingin beliau katakan. Akan tetapi aku ragu, kalau aku tanyakan apakah beliau akan menjawab. Jangan-jangan ia ingin mempermainkanku lagi. Mengingat Pak Ryan kan seperti itu.

“Hanya saja apa?” tanyaku. Keingin tahuanku lebih besar sehingga aku memutuskan untuk bertanya.

Pak Ryan memandang ke arahku dengan tatapan yang dalam sekali seperti hendak masuk ke dalam diriku. Lalu, dia tersenyum. Senyum yang berbeda. Senyum yang belum pernah kulihat seakan memiliki arti lain. Bukan senyum senang tapi senyum kecewa.

“Kamu benar-benar ingin tahu?” Dia balik bertanya. Lagi-lagi seperti ini. Cukup, aku sudah tahu. Dia hanya ingin mempermainkanku. Menyesal juga sih kenapa aku bertanya.

“Yasudah kalau bapak tidak ingin mengatakannya.” jawabku dingin.

“Hanya saja sejujurnya saya kecewa karena kamu tidak suka pergi dengan saya.” Pak Ryan mengatakan itu dengan tiba-tiba dan sambil berlalu menuju pintu mobil satunya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar